JAKARTA -- Pesawat Garuda Indonesia tidak diperbolehkan mengisi bahan bakar avtur di bandara Timika sejak 3 Januari 2009 akibat tidak mau mengangkut petinggi PT Freeport Indonesia. Akibatnya, Garuda Indonesia memutuskan untuk tidak menerbangi rute itu lagi.
Insiden Garuda dengan Freeport ini terjadi pada penerbangan Garuda GA 653 rute Jakarta-Denpasar-Timika pada tanggal 2 Januari 2009 lalu. Dalam penerbangannya dari Denpasar ke Timika, pesawat yang dipiloti Kapten Achdiyat tersebut terpaksa divert (dialihkan) ke Jayapura akibat cuaca buruk.
Setelah berhenti sekitar 2,5 jam di bandara Jayapura, pesawat tersebut memutuskan kembali terbang.
Setelah semua persiapan take off (terbang) selesai dan pintu pesawat sudah ditutup.
Tiba-tiba Presdir Freeport, Armando Mahler bersama dua stafnya bersikeras untuk menumpang pesawat tersebut menuju Timika. Ketiga orang tersebut seharusnya menumpang pesawat Garuda yang lain yang terbang satu jam berikutnya. Kru garuda menolak permintaan itu dengan alasan hal mereka tidak terdaftar di manifest.
Selain itu, kru Garuda berdalih belum mempersiapkan logistik, seperti makanan bagi ketiga orang Freeport tersebut. Akhirnya pesawat tetap diberangkat tanpa ditumpangi ketiganya. Di Timiki, pilot Achdiyat digantikan oleh pilot Manotar Napitupulu. Meski mendengar kejadian itu, tapi Kapten Manotar menganggap kejaida itu sudah bisa diselesaikan oleh manajemen.
"Saya seperti biasa langsung mengisi bahan bakar untuk penerbangan ke Jakarta. Saya pikir itu kejadian biasa, kalau penumpang telat ya ditinggal," ujar Kapten Manotar saat dihubungi kemarin. Setelah menunggu beberapa jam, ternyata bahan bakar itu tidak segera diisi. Lalu datang petugas garuda di bandara tersebut yang memberitahukan kabar buruk.
"Petugas itu bilang ada surat dari pengelola bandara bahwa mulai tanggal 4 Januari, Garuda tidak diperbolehkan mengisi avtur di bandar Timika hingga batas waktu yang belum ditentukan," lanjut Manotar. Berhubung saat itu masih tanggal 3 Januari, Manotar berharap tetap bisa mendapatkan avtur. Sayangnya, kemudian ada surat edaran kedua yang menyebutkan Garuda tidak diperbolehkan mengisi avtur mulai tanggal 3 Januari.
"Saya protes, tapi kepala bandara malah bilang Garuda boleh mengisi bahan bakar lagi di Timika kalau Dirutnya, Emirsyah Satar minta maaf ke Freeport," unghkap Manotar.
Hal itu disampaikannya kepada Direktru Operasional garuda, Ari sapari yang langsung memerintahkan Manotar untuk membeli avtur di bandara Biak. Untung, pesawat itu masih memiliki cadangan avtur sebesar 8 ton dari penerbangan sebelumnya.
Berkaitan dengan itu, Kepala Komunikasi Publik Garuda, Pujobroto menegaskan bahwa mulai hari ini (05/01/09) Gruda tidak akan menerbangi Timika lagi. Alasannya, tidak ada jaminan penyediaan bahan bakar dari Freeport untuk penerbangan Garuda.
"Ini menyangkut keselamatan penerbangan, kami harus menjamin seluruh penumpang aman dengan bahan bakar yang memadai," tuturnya. Menurut Pujo, sebagai maskapai yang menjamin keselamatan penerbangan, garuda harus menyiapkan bahan bakar yang cukup untuk menjaga kejadian yang tidak disangka-sangka.
Oleh karena itu, setidaknya kapaitas bahan bakar yang diangkut harus tersedia untuk melakukan pengalihan penerbangan ke tujuan alternatif. "Kita juga tidak akan membuka penerbangan ke Timika sampai ada jaminan mereka (Freeport) menyediakan avtur," jelasnya. (wir)