Masih membekas dalam ingatan ku, di suatu pagi nan sejuk yang masih menyisakan tetesan embun, membuat kilau-kilauan bening didedaunan basah. suasana pagi itu begitu menyejukan hati, saat itu aku dengannya sedang duduk dibangku taman kota, rasanya aku ingin menghentikan waktu agar bisa lebih lama menikmati kesejukan itu sampai akhirnya dia mengucapkan kalimat yang begitu menusuk kerelung hatiku.
“Rachmi, abang ngajak kamu kesini untuk berpamitan. Abang dapet beasiswa ke qairo untuk belajar disana. Ade tau kan itu impian abang dari dulu, abang mengharapkan dukungan darimu”
Aku terdiam membisu tak dapat berkata apa-apa, kabar ini sangat mengejutkan ku. Tak dapat kubayangkan bila jauh darinya, tak ada lagi abang fajar disampingku. Sedari kecil Kami dibesarkan dipanti asuhan yang sama. Selama ini aku bergantung padanya dan kini dia akan pergi meninggalkan aku, rasanya bagai kaki yang pincang sebelah.
“Nanti klo abang sudah selesai study disana dan menjadi orang sukses abang akan jemput ade. Abang akan melamarmu, mau kan kamu nunggu abang?” ucap bang fajar meyakinkanku
“tapi aku gak bisa pisah sama abang,, apalagi sampe 4 tahun .” tanpa terasa air mataku jatuh membasahi pipiku.
“ abang akan selalu mengabarimu dan janji akan memjemputmu” air mata terus mengalir ketika aku jatuh dipelukkannya.
Beberapa hari setelah kepergiannya kami sering berkomunikasi lewat internet ataupun telfon. Seiring dengan berjalannya waktu kontak pun terputus tak ada kabar darinya orang yang selalu kunantikan. Panti asuhan yang aku tempati pun akan segera digusur untuk di jadikan mall besar. Untungnya kita semua diberikan tempat baru sebagai gantinya, jadi tidak ada masalah untuk tempat tinggal. setelah lulus kuliah aku tidak ingin membebani ibu panti lagi kemudian aku mencari kerja dan mengikuti tes CPNS, dengan mengikuti beberapa tes yang harus bekerja keras memutar otak akhirnya aku diterima dan ditempatkan di bandung. Rasanya makin jauh saja jalanku untuk bertemu dengannya, tapi aku hanya bisa berpasrah dan berdoa ke pada sang khaliq.
Sudah 5 tahun kepergiannya, aku masih berharap bisa bertemu dengannya. Sesekali aku datangi panti asuhan dan mampir ke sebuah mall yang dulunya adalah panti asuhan ku. Rasanya aku seperti orang bodoh berdiam diri di depan mall seharian menunggu kedatangannya. Terkadang aku berpikir apakah dia sudah melupakan janjinya padaku, kapan penantian ini kan berakhir. Rasanya hati ini sudah letih, mungkin benar apa yang dibilang teman ku mira.
“Mi,, kamu yakin masih mau menunggunya?? Rasanya itu hal yang mustahil, sudah 5 tahun lebih, apakah kamu akan terus hidup dengan penantian yang tak kunjung tiba.” Aku tak dapat menjawab semua pertanyaan mira, kalau aku jawab jujur pasti mira akan menentangnya.
“aa Fikri meminta aku menyampaikan ini padamu bahwa dia sangat menyayangimu dan berharap dapat meminangmu kelak, dia akan selalu menunggu mu sampai kamu benar-benar siap. jadi bagaimana jawabanmu?”
“aku butuh waktu untuk menjawabnya mir.”
“ya kamu pikirkan baik-baik, Jangan sampai kau mengambil keputusan yang dapat kau sesali nantinya” pesan mira.
aa fikri adalah kaka dari sahabatku mira, aku mengenal mereka semenjak pindah ke Bandung. Keluarga mereka baik padaku orang tuanya pun sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri.
Setelah beberapa hari aku sholah istiqarah dan memikirkan mana yang harus kupilih, apakah aku menerima permintaan aa fikri untuk meminangku atau akan terus menunggu abang fajar yang entah sampai kapan. Dan akhirnya aku mengambil keputusan untuk pergi kejakarta dan sekali lagi menunggunya di depan mall, kalau sampai sore dia tidak kunjung datang aku akan menerima aa fikri. Hal yang paling aku takutkan pun terjadi aku menunggu seharian dengan sia-sia. Kembalinya aku ke bandung aku langsung menemui mira dan menerima aa fikri.
Satu minggu kemudian fikri dan keluarganya datang ke panti asuhan untuk menghitbah Rachmi disaat moment2 itu akan berlangsung tiba2 muncul seorang pria tampan dengan kemeja putih dan mengenakan celana jeans berdiri di depan pintu sambil tersenyum, Rachmi sangat terkejut melihatnya mungkin penampilannya sudah berubah tapi wajah itu masih tetap sama. Semua tersentak kaget
“aaabang fajar…” aku berlari kedalam pelukannya.
“abang sudah janji akan menjemputmu”


0 komentar:
Posting Komentar