Bacalah dan Hayati Setiap Baris Kata Cerita Dibawah.....
Memang nampak agak panjang ceritanya, namun klimaks cerita ini hanya
akan diperolehi jika anda habiskan bacaan....
masih sangat pagi ketika abi membangunkanku, rasanya mata masih sagat berat dan rasa kantuk begitu hebat kurasakan, masih dalam antara setengah sadar kutarik kembali selimut seperti semula, lalu tidur kembali. Abi hanya menggelengkan kepala melihatku kembali tidur.
kembali ia bangunkanku, lalu menyuruhku bergegas untuk mandi. Selesai mandi lalu kupakai baju baru yang kemarin dibeli oleh ummi, kata ummi hari ini Hari Raya Aidilfitri, semua orang pakai baju baru. Tapi aku melihat ummi masih memakai baju lama yang terlihat sudah sangat lusuh, abi pun memakai baju yang sama dengan ummi, sudah terlihat lusuh. Ummi hanya tersenyum bila aku bertanya tentang itu, ummi bilang cukuplah aku saja yang pakai baju baru, tanpa memberikan alasan mengapa mereka tidak memakai baju baru sama seperti aku.
Abi mengandeng tanganku dan berjalan menuju masjid. Kami berjalan melewati lorong-lorong kecil. Sepanjang jalan ku dengar takbir, Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illallah huallahu akbar, Allahu Akbar wallilla hilham.. khusyuk aku mendengarkan, Merdu sekali. Ku angkat tangan ke telinga, bergaya seperti bilal masjid sambil meneriakkan takbir. Abi ketawa kecil melihat tingkah lakuku.
Di persimpangan jalan, kami bertemu Paman Nassier jiran. abi berbincang-bincang dengan paman Nassier, ku dengar mereka berbicara tentang syahid, Yassier Arafat dan lain-lain lagi. kudengar lagi mereka membicarakan negeri ini, palestina. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Tak berapa lama kemudian kami tiba di halaman masjid. Masjid itu besar terlihat sangat indah. Masjid kebanggaan tanah airku, Masjidil Aqsa. Ayah pernah memberitahu, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama sebelum Kaabah di Mekah. Masjidil Aqsa juga salah satu tempat suci dalam Islam. Nabi Muhammad pun mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj di masjid ini.
ku buka sandal dan masuk ke dalam masjid tampak orang-orang duduk rapi berjajar dalam shaf. Abi mengajakku duduk di sebelah pojok kanan masjid, kemudian abi sholat tahiyatul masjid. tanpa dikomando aku mengikutinya, sejenak kuperhatikan ia, mulutnya komat-kamit membaca sesuatu, aku pun mengikutinya walaupun tak tahu apa yang dibaca. ketika abi rukuk, akupun rukuk, abi sujud, akupun sujud.
Selesai sholat kami bersalam-salaman dengan jemaah yang lain, abi ada di belakangku. Suasana ketika itu tenang dan damai, aku suka ketenangan. Ku tarik nafas, menghirup dalam-dalam udara pagi, terasa sangat menyegarkan. Tiba-tiba ketenangan itu menghilang. Aku melihat orang-orang berlarian, terlihat sekumpulan tentara yang memegang senjata, sepertinya mereka sangat marah terlihat dari garang mukanya, kemudian mereka menuju ke arah masjid. kudengar suara yang sangat keras. Bunyi tembakan dan dentuman. Abi menggendong dan memlukku erat sambil meneriakkan takbir Allahu Akbar!. Aku sangat takut, kupejamkan mata.
ketika abi berlari sambil memegangku, tiba-tiba terhenti. Pelukan tangannya longgar dan akhirnya terlepas dariku, tubuhku terhempas dan menghenyakkanku, kulihat kebelakang, mataku terbelalak, disana tubuh ayah terkapar, kepalanya berdarah. Aku berteriak dan memanggilnya, sekuat tenaga aku kembali berlari mendekat abi, ia memandanggku lalu mencium pipiku dan kemudian menyuruhku untuk bergegas berlari. Aku menggelengkan kepala memberikan isyarat bahwa aku tak akan meninggalkannya, ku pegang tangannya lalu aku duduk di sisinya. kembali ia senyum padaku, Mulutnya lemah melantunkan kalimah syahadah. ku goyang tubuhnya, namun tak juga ia bergerak. tubuhnya menjadi kaku dan dingin. "abbiiiiii!!!!!!!" tanpa sadar air mataku menetas tanpa bisa kutahan. kutinggalkan tubuh abi yang terbujur kaku dan berlumuran darah, kemudian lari sekencang-kencangnya.
setelah berlari ratusa meter, aku tiba dirumah, aku terus menangis. Ummi heran melihatku menangis terdedu-sedu. ku sebut nama abi berkali-kali.
Mayat abi di antar ke rumah tidak lama setelah kejadian di dekat masjid tadi. Aku masih menangis. ku lihat ummi mencium dahinya. Ummi memelukku erat. Beberapa tetanggaku mencoba menenangkan ummi. Abang yang duduk di pojokan dinding juga menangis.
Abang sudah besar, umurnya enam belas tahun. Abang mendekati abi yang terbujur kaku, kemudian ia memeluk dan mencium keningnya dengan berurai air mata.
Setelah sholat dzuhur orang-orang mengangkat tubuh abi keluar rumah. Abang ikut mengiringinya, aku tidak ikut. Aku duduk di rumah dengan ummi. Aku tanya ummi, kemana perginya abi. Ummi hanya diam. Aku bertanya lagi sambil menongkat dagu menunggu jawaban dari mulut ummi. Ummi melihat kearahku, kemudian ummi berkata, abi pergi ke satu tempat yang sangat indah. syurga, katanya..
Abi pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku cuma mengangguk "aku ingin pergi dan ikut dengan abi"
Ummi menggelengkan kepalanya dan memelukku. Ku usap air mata di pipi ummi yang menetes basahi kerudungnya. Aku tersenyum kearahnya, ummipun tersenyum.
Petang itu, ramai sekali kawan abang datang kerumah, abang mengajak mereka ke halaman belakang. ku lihat abang sedang membuat sesuatu. Sesuatu yang menyerupai senapan. Aku hanya duduk diam dan melihatnya, kulihat teman-teman abangpun juga sedang serius mengerjakan sesuatu. Aku menguap berkali-kali, bosan duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Mataku mencari sesuatu, mungkin ada yang bisa kujadikan mainan. ku lihat benda bulat menyeruapai bola, aku mengambilnya dan memainkan bola itu. Sedang asyik bermain abang mengambil bola itu dari tanganku, aku kesal dibuatnya. Mukaku merah padam menahan marah, aku marah kepada abang. Abang tersenyum melihat tingkah lakuku. Dengan lembut abang mencubit pipiku. Abang memberitahuku, bahwa benda itu bom, bukan bola seperti yang kuduga. Aku hanya diam, kemudian berlari mencari ummi. Aku mengadu kepada ummi, ummi hanya tersenyum melihatku merajuk.
pagi ini aku bangun lebih awal, tidak seperti hari-hari yang lain, tidak ada abi yang membangunkanku seperti hari kemarin. Apabila teringat abi, mataku berkaca-kaca, aku rindu kepadanya. Aku tidak mau menangis, aku seorang lelaki. seorang lelaki tidak boleh menanggis, lelaki harus kuat dan tabah. aku melihat abang sedang bersiap-siap. Abang membawa tas besar, semua benda yang dibuat semalam dibawa. Benda bulat seperti bola pun abang bawa. Kawan-kawan abang semuanya sedang menungu di depan rumah. Abang mencium tangan ummi, meminta izin untuk pergi, ummi memeluk abang dan menciumnya berkali-kali. Aku hanya memandangnya tidak mengerti, kugaruk kepala yang tidak gatal. Abang menemuiku, kemudian ia menggendongku dan mengusap kepalaku.
"Adik jaga ummi ya"pesan abang.
"Abang mau pergi kemana?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Abang mau pergi berjuang". Abang mengukir senyuman mengakhiri pembicaraan.
Bayangan abang hilang ditelan kabut pagi. Hanya lambaian tanganku mengiringi kepergian abang. Lepas abang pergi ummi cerita macam-macam kepadaku. Mengenai Israel, mengenai surga, mengenai jihad dan banyak lagi. Semuanya yang diceritakan ummi tak bisa kumengerti "Isra..Israfil" terbata-bata aku menyebut nama itu.
"Bukan Israfil. Israfilkan nama malaikat. Malaikat yang tiup sangkakala, Israel" Ummi membetulkan
Aku kembali coba subutkan kata itu "Is.ra.el" akhirnya aku berhasil mengejanya. Ummi ketawa kecil, akupun ikut ketawa menampakkan sebaris gigiku yang ompong.
Ummi berkata Israel itu jahat. Israel itu musuh umat Islam. Israel juga musuh Allah. Israel yang mencetuskan peperangan di bumi Palestina. Israel yang mebunuh abi. Aku benci Israel! Aku benci siapapun yang menjadi musuh Allah. Aku berlari keluar rumah, kemudian aku pergi ke jalan besar. Tampak ramai orang-orang yang seumuran denganku sedang berkumpul. Mereka semua melemparkan batu kearah sekumpulan tentara yang bersenjata di seberang jalan. Aku ingat lagi, tentara itulah yang membunuh abi. Merekalah Israel. Aku marah, aku geram, kemudian kuambil batu dan melemparkan sekuat tenaga kearah para tentara itu. Kupejamkan mata, terbayang di benakku mengenai peristiwa yang menimpa abi. Aku beserta kawan-kawan melemparkan batu, sesekali kami berlari menjauh ketika para tentara itu membalas lemparan kami. Ada juga kawan-kawan yang tertembak, tumbang satu persatu. Aku melihat baju mereka merah berlumuran darah.
Aku berlari dan berlindung di bangunan tua untuk menyelamatkan diri. Aku lari bersama seorang kawanku. Namanya Jamal. Dia juga sama denganku. Abinya juga pergi ke suatu tempat yang sangat indah dan tidak akan kembali lagi.
Keadaan sudah mereda, aku pulang ke rumah. Aku berjanji dengan Jamal untuk kembali melemparkan batu kepada para tentara jahanam itu keesokan harinya.
Sesampai di rumah aku merasa sangat lapar. Aku mecari roti di dapur dan membuka lemari, namun aku tak menemukan apa-apa, perutku bunyi dan sudah minta diidi dengan sesuatu. Aku sudah makan roti tadi sore, tapi aku masih berasa lapar. Aku melihat ummi memegang roti. Hanya itu saja yang ada dirumah kami. Ummi tidak makan apa-apa lagi sejak pagi tadi, aku mendekati ummi. Ummi mengunyahkan roti keras itu, kemudian menyuapkannya kepadaku agar lembut ketika kukunyah.
"Ummi, Kenapa kita hidup susah?" aku tanya kepada ummi dengan mulut yang masih penuh menguhyah roti. Ummi memangkuku, lalu mengelus lembut rambutku dengan penuh kasih sayang. "Kita harus sabar sebab sabar itu indah" ujar ummi perlahan.
"indah seperti syurga ummi?" aku tanya lagi.
Ummi senyum. "Nabi Muhammad pun hidup susah juga. Baginda dilempar batu ketika menyebarkan dakwah di Thaif. Malahan kaum Quraisy banyak yang ingin membunuhnya. Nabi sabar, nabi tidak cepat putus asa" sambung ummi lagi.
Aku mendengarkan dengan khusyuk. Aku ingin menjadi seperti Nabi Muhammad. Namaku pun Muhammad. Abi yang memberikan nama itu. Abi ingin aku tabah dan berani seperti Nabi Muhammad. Malam itu aku duduk bersila didepan ummi sambil memegang Al-Quran. ku ikat sorban sendiri, kulilitkan sorban sesuka hatiku. Kadang-kadang sorban itu metutupi mataku. Aku buka sedikit ke atas ketika hendak membaca Al-Quran. "Bismillahirrahmanir rahim.." Aku membaca Al-Quran dengan bersungguh-sungguh.
Ummi duduk depanku sambil memerhatikan bacaanku. Aku hingin seperti abang yang khatam Al-Quran saat berumur enam tahun, aku baru berusia tiga tahun sekarang. Aku harus baca Quran dengan rajin kalau ingin khatam Al-Quran cepat seperti abang. Aku ingat pesan ummi, Ummi berkata Al-Quranlah satu-satunya harta yang paling berharga. Aku ingin baca Al-Quran setiap hari.
Bacaanku terhenti ketika pintu diketuk dan nama ummi panggil-panggil dari luar.
"Syukur ya Huda, anakmu Yassin mati syahid" muncul bibi Fatima di depan rumah.
"Anakmu,anakmu adalah salah seorang pengebom berani mati ya Huda. Tindakannya menyebabkan tujuh orang tentara Israel laknatullah terbunuh. Yassin dan tiga orang lagi pejuang Hizbullah mati syahid. Semoga syurga menanti mereka kelak" terang bibi Fatima panjang lebar.
Ummi memanjatkan doa pada Allah semoga roh abang ditempatkan dalam golongan orang-orang yang beriman. Aku kaget. Nama Israfil,bukan. .Israel disebut lagi. Aku benci mendengar nama itu. Kemarahanku meluap-luap. Ummi beritahuku abang telah pergi ikut abi, kata ummi bangga mempunyai anak seperti abang. Aku tidur tidur lebih awal.
Aku memimpikan satu tempat yang sangat indah. Aku abi dan abang di sana, mereka tersenyum padaku, aku mencoba untuk mengejar mereka, tapi semakin kukejar semakin mereka menghilang.
Keesokkan harinya, aku tunggu Jamal di tepi jalan seperti yang dijanjikan.Lima menit berlalu Jamal tidak muncul-muncul juga. Hampir setengah jam aku menunggu, tapi Jamal tetap tidak muncul. Aku tidak suka orang yang mengingkari janji. Aku ingat lagi, salah satu ciri orang munafik ialah apabila berjanji tidak menepatinya. Aku tidak mau jadi orang munafik. Aku tanya kawan-kawanku yang lain, rupa-rupanya Jamal juga seperti ayah dan abang. Jamal pergi ke satu tempat yang indah. Tempat yang aku tidak tahu di mana letaknya. Semua orang yang ku sayangi pergi ke tempat itu. Mula-mula ayah, kemudian abang dan akhirnya Jamal.
Aku pulang ke rumah lebih awal, aku terkejut melihat rumahku dikepung tentara Israel. Mereka memang sedang mencari keluargaku akibat dari tindakan berani mati abang mengebom kubu Israel. Tubuhku yang kecil memudahkanku untuk menyusup masuk ke dalam rumah. Aku melihat ummi terpelosok di satu sudut, aku lihat dengan mataku sendiri, tentara itu menendang ummi. Mereka menendang dan menerjang ummi, tapi ummi masih bersabar. Ummi tidak putus-putus menyebut satu kalimat keramat..Ahad. .Ahad.
Mataku merah aku menahan marah, aku tidak suka orang-orang memukul ummi. Aku sayang ummi, aku benci Israel. Seorang tentera Israel mengacukan pistol ke arah ummi, ummi dengan tenang menghadapinya, tiada pun segaris garisan gusar terpancar diwajah ummi. Ketika peluru dilepaskan, tiba-tiba... ..
"Muhammad!!!! !!!" Ummi menjerit sambil memegang tubuhku. Badanku berlumuran darah, pekat dan merah.ku raba perutku, terasa sakit. Sakit yang menusuk-nusuk hingga kurasakan menjalar keseluruh tubuh,
Seketika aku mengorbankan tubuhku untuk melindungi ummi. Akhirnya peluru itu merobek perutku, Ummi memeluk tubuhku seraya menangis, ku coba untuk senyum pada ummi walaupun perih. "Ummi, aku mengantuk, aku mau tidur. Aku mau jadi mujahid, aku mau ikut abi dan abang" bergetar suaraku terdengar di telinga ummi. Ummi mengangguk, berusaha untuk menahan air mata yang jatuh dari kedua kelopak beningnya.
Aku pejamkan mata. Aku melihat ayah, abang dan Jamal melambai-lambai ke arahku..
(ya rabb, berilah kekuatan jasmani dan rohani serta rahmatmu selalu tercurah untuk mereka semua. Aminn ya rabb. Sebuah cerita yang menginspirasiku untuk tetap berusaha beriman dan bertakwa kepada-Mu)
Memang nampak agak panjang ceritanya, namun klimaks cerita ini hanya
akan diperolehi jika anda habiskan bacaan....
masih sangat pagi ketika abi membangunkanku, rasanya mata masih sagat berat dan rasa kantuk begitu hebat kurasakan, masih dalam antara setengah sadar kutarik kembali selimut seperti semula, lalu tidur kembali. Abi hanya menggelengkan kepala melihatku kembali tidur.
kembali ia bangunkanku, lalu menyuruhku bergegas untuk mandi. Selesai mandi lalu kupakai baju baru yang kemarin dibeli oleh ummi, kata ummi hari ini Hari Raya Aidilfitri, semua orang pakai baju baru. Tapi aku melihat ummi masih memakai baju lama yang terlihat sudah sangat lusuh, abi pun memakai baju yang sama dengan ummi, sudah terlihat lusuh. Ummi hanya tersenyum bila aku bertanya tentang itu, ummi bilang cukuplah aku saja yang pakai baju baru, tanpa memberikan alasan mengapa mereka tidak memakai baju baru sama seperti aku.
Abi mengandeng tanganku dan berjalan menuju masjid. Kami berjalan melewati lorong-lorong kecil. Sepanjang jalan ku dengar takbir, Allahu Akbar Allahu Akbar, La ilaha illallah huallahu akbar, Allahu Akbar wallilla hilham.. khusyuk aku mendengarkan, Merdu sekali. Ku angkat tangan ke telinga, bergaya seperti bilal masjid sambil meneriakkan takbir. Abi ketawa kecil melihat tingkah lakuku.
Di persimpangan jalan, kami bertemu Paman Nassier jiran. abi berbincang-bincang dengan paman Nassier, ku dengar mereka berbicara tentang syahid, Yassier Arafat dan lain-lain lagi. kudengar lagi mereka membicarakan negeri ini, palestina. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Tak berapa lama kemudian kami tiba di halaman masjid. Masjid itu besar terlihat sangat indah. Masjid kebanggaan tanah airku, Masjidil Aqsa. Ayah pernah memberitahu, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama sebelum Kaabah di Mekah. Masjidil Aqsa juga salah satu tempat suci dalam Islam. Nabi Muhammad pun mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj di masjid ini.
ku buka sandal dan masuk ke dalam masjid tampak orang-orang duduk rapi berjajar dalam shaf. Abi mengajakku duduk di sebelah pojok kanan masjid, kemudian abi sholat tahiyatul masjid. tanpa dikomando aku mengikutinya, sejenak kuperhatikan ia, mulutnya komat-kamit membaca sesuatu, aku pun mengikutinya walaupun tak tahu apa yang dibaca. ketika abi rukuk, akupun rukuk, abi sujud, akupun sujud.
Selesai sholat kami bersalam-salaman dengan jemaah yang lain, abi ada di belakangku. Suasana ketika itu tenang dan damai, aku suka ketenangan. Ku tarik nafas, menghirup dalam-dalam udara pagi, terasa sangat menyegarkan. Tiba-tiba ketenangan itu menghilang. Aku melihat orang-orang berlarian, terlihat sekumpulan tentara yang memegang senjata, sepertinya mereka sangat marah terlihat dari garang mukanya, kemudian mereka menuju ke arah masjid. kudengar suara yang sangat keras. Bunyi tembakan dan dentuman. Abi menggendong dan memlukku erat sambil meneriakkan takbir Allahu Akbar!. Aku sangat takut, kupejamkan mata.
ketika abi berlari sambil memegangku, tiba-tiba terhenti. Pelukan tangannya longgar dan akhirnya terlepas dariku, tubuhku terhempas dan menghenyakkanku, kulihat kebelakang, mataku terbelalak, disana tubuh ayah terkapar, kepalanya berdarah. Aku berteriak dan memanggilnya, sekuat tenaga aku kembali berlari mendekat abi, ia memandanggku lalu mencium pipiku dan kemudian menyuruhku untuk bergegas berlari. Aku menggelengkan kepala memberikan isyarat bahwa aku tak akan meninggalkannya, ku pegang tangannya lalu aku duduk di sisinya. kembali ia senyum padaku, Mulutnya lemah melantunkan kalimah syahadah. ku goyang tubuhnya, namun tak juga ia bergerak. tubuhnya menjadi kaku dan dingin. "abbiiiiii!!!!!!!" tanpa sadar air mataku menetas tanpa bisa kutahan. kutinggalkan tubuh abi yang terbujur kaku dan berlumuran darah, kemudian lari sekencang-kencangnya.
setelah berlari ratusa meter, aku tiba dirumah, aku terus menangis. Ummi heran melihatku menangis terdedu-sedu. ku sebut nama abi berkali-kali.
Mayat abi di antar ke rumah tidak lama setelah kejadian di dekat masjid tadi. Aku masih menangis. ku lihat ummi mencium dahinya. Ummi memelukku erat. Beberapa tetanggaku mencoba menenangkan ummi. Abang yang duduk di pojokan dinding juga menangis.
Abang sudah besar, umurnya enam belas tahun. Abang mendekati abi yang terbujur kaku, kemudian ia memeluk dan mencium keningnya dengan berurai air mata.
Setelah sholat dzuhur orang-orang mengangkat tubuh abi keluar rumah. Abang ikut mengiringinya, aku tidak ikut. Aku duduk di rumah dengan ummi. Aku tanya ummi, kemana perginya abi. Ummi hanya diam. Aku bertanya lagi sambil menongkat dagu menunggu jawaban dari mulut ummi. Ummi melihat kearahku, kemudian ummi berkata, abi pergi ke satu tempat yang sangat indah. syurga, katanya..
Abi pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku cuma mengangguk "aku ingin pergi dan ikut dengan abi"
Ummi menggelengkan kepalanya dan memelukku. Ku usap air mata di pipi ummi yang menetes basahi kerudungnya. Aku tersenyum kearahnya, ummipun tersenyum.
Petang itu, ramai sekali kawan abang datang kerumah, abang mengajak mereka ke halaman belakang. ku lihat abang sedang membuat sesuatu. Sesuatu yang menyerupai senapan. Aku hanya duduk diam dan melihatnya, kulihat teman-teman abangpun juga sedang serius mengerjakan sesuatu. Aku menguap berkali-kali, bosan duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Mataku mencari sesuatu, mungkin ada yang bisa kujadikan mainan. ku lihat benda bulat menyeruapai bola, aku mengambilnya dan memainkan bola itu. Sedang asyik bermain abang mengambil bola itu dari tanganku, aku kesal dibuatnya. Mukaku merah padam menahan marah, aku marah kepada abang. Abang tersenyum melihat tingkah lakuku. Dengan lembut abang mencubit pipiku. Abang memberitahuku, bahwa benda itu bom, bukan bola seperti yang kuduga. Aku hanya diam, kemudian berlari mencari ummi. Aku mengadu kepada ummi, ummi hanya tersenyum melihatku merajuk.
pagi ini aku bangun lebih awal, tidak seperti hari-hari yang lain, tidak ada abi yang membangunkanku seperti hari kemarin. Apabila teringat abi, mataku berkaca-kaca, aku rindu kepadanya. Aku tidak mau menangis, aku seorang lelaki. seorang lelaki tidak boleh menanggis, lelaki harus kuat dan tabah. aku melihat abang sedang bersiap-siap. Abang membawa tas besar, semua benda yang dibuat semalam dibawa. Benda bulat seperti bola pun abang bawa. Kawan-kawan abang semuanya sedang menungu di depan rumah. Abang mencium tangan ummi, meminta izin untuk pergi, ummi memeluk abang dan menciumnya berkali-kali. Aku hanya memandangnya tidak mengerti, kugaruk kepala yang tidak gatal. Abang menemuiku, kemudian ia menggendongku dan mengusap kepalaku.
"Adik jaga ummi ya"pesan abang.
"Abang mau pergi kemana?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Abang mau pergi berjuang". Abang mengukir senyuman mengakhiri pembicaraan.
Bayangan abang hilang ditelan kabut pagi. Hanya lambaian tanganku mengiringi kepergian abang. Lepas abang pergi ummi cerita macam-macam kepadaku. Mengenai Israel, mengenai surga, mengenai jihad dan banyak lagi. Semuanya yang diceritakan ummi tak bisa kumengerti "Isra..Israfil" terbata-bata aku menyebut nama itu.
"Bukan Israfil. Israfilkan nama malaikat. Malaikat yang tiup sangkakala, Israel" Ummi membetulkan
Aku kembali coba subutkan kata itu "Is.ra.el" akhirnya aku berhasil mengejanya. Ummi ketawa kecil, akupun ikut ketawa menampakkan sebaris gigiku yang ompong.
Ummi berkata Israel itu jahat. Israel itu musuh umat Islam. Israel juga musuh Allah. Israel yang mencetuskan peperangan di bumi Palestina. Israel yang mebunuh abi. Aku benci Israel! Aku benci siapapun yang menjadi musuh Allah. Aku berlari keluar rumah, kemudian aku pergi ke jalan besar. Tampak ramai orang-orang yang seumuran denganku sedang berkumpul. Mereka semua melemparkan batu kearah sekumpulan tentara yang bersenjata di seberang jalan. Aku ingat lagi, tentara itulah yang membunuh abi. Merekalah Israel. Aku marah, aku geram, kemudian kuambil batu dan melemparkan sekuat tenaga kearah para tentara itu. Kupejamkan mata, terbayang di benakku mengenai peristiwa yang menimpa abi. Aku beserta kawan-kawan melemparkan batu, sesekali kami berlari menjauh ketika para tentara itu membalas lemparan kami. Ada juga kawan-kawan yang tertembak, tumbang satu persatu. Aku melihat baju mereka merah berlumuran darah.
Aku berlari dan berlindung di bangunan tua untuk menyelamatkan diri. Aku lari bersama seorang kawanku. Namanya Jamal. Dia juga sama denganku. Abinya juga pergi ke suatu tempat yang sangat indah dan tidak akan kembali lagi.
Keadaan sudah mereda, aku pulang ke rumah. Aku berjanji dengan Jamal untuk kembali melemparkan batu kepada para tentara jahanam itu keesokan harinya.
Sesampai di rumah aku merasa sangat lapar. Aku mecari roti di dapur dan membuka lemari, namun aku tak menemukan apa-apa, perutku bunyi dan sudah minta diidi dengan sesuatu. Aku sudah makan roti tadi sore, tapi aku masih berasa lapar. Aku melihat ummi memegang roti. Hanya itu saja yang ada dirumah kami. Ummi tidak makan apa-apa lagi sejak pagi tadi, aku mendekati ummi. Ummi mengunyahkan roti keras itu, kemudian menyuapkannya kepadaku agar lembut ketika kukunyah.
"Ummi, Kenapa kita hidup susah?" aku tanya kepada ummi dengan mulut yang masih penuh menguhyah roti. Ummi memangkuku, lalu mengelus lembut rambutku dengan penuh kasih sayang. "Kita harus sabar sebab sabar itu indah" ujar ummi perlahan.
"indah seperti syurga ummi?" aku tanya lagi.
Ummi senyum. "Nabi Muhammad pun hidup susah juga. Baginda dilempar batu ketika menyebarkan dakwah di Thaif. Malahan kaum Quraisy banyak yang ingin membunuhnya. Nabi sabar, nabi tidak cepat putus asa" sambung ummi lagi.
Aku mendengarkan dengan khusyuk. Aku ingin menjadi seperti Nabi Muhammad. Namaku pun Muhammad. Abi yang memberikan nama itu. Abi ingin aku tabah dan berani seperti Nabi Muhammad. Malam itu aku duduk bersila didepan ummi sambil memegang Al-Quran. ku ikat sorban sendiri, kulilitkan sorban sesuka hatiku. Kadang-kadang sorban itu metutupi mataku. Aku buka sedikit ke atas ketika hendak membaca Al-Quran. "Bismillahirrahmanir rahim.." Aku membaca Al-Quran dengan bersungguh-sungguh.
Ummi duduk depanku sambil memerhatikan bacaanku. Aku hingin seperti abang yang khatam Al-Quran saat berumur enam tahun, aku baru berusia tiga tahun sekarang. Aku harus baca Quran dengan rajin kalau ingin khatam Al-Quran cepat seperti abang. Aku ingat pesan ummi, Ummi berkata Al-Quranlah satu-satunya harta yang paling berharga. Aku ingin baca Al-Quran setiap hari.
Bacaanku terhenti ketika pintu diketuk dan nama ummi panggil-panggil dari luar.
"Syukur ya Huda, anakmu Yassin mati syahid" muncul bibi Fatima di depan rumah.
"Anakmu,anakmu adalah salah seorang pengebom berani mati ya Huda. Tindakannya menyebabkan tujuh orang tentara Israel laknatullah terbunuh. Yassin dan tiga orang lagi pejuang Hizbullah mati syahid. Semoga syurga menanti mereka kelak" terang bibi Fatima panjang lebar.
Ummi memanjatkan doa pada Allah semoga roh abang ditempatkan dalam golongan orang-orang yang beriman. Aku kaget. Nama Israfil,bukan. .Israel disebut lagi. Aku benci mendengar nama itu. Kemarahanku meluap-luap. Ummi beritahuku abang telah pergi ikut abi, kata ummi bangga mempunyai anak seperti abang. Aku tidur tidur lebih awal.
Aku memimpikan satu tempat yang sangat indah. Aku abi dan abang di sana, mereka tersenyum padaku, aku mencoba untuk mengejar mereka, tapi semakin kukejar semakin mereka menghilang.
Keesokkan harinya, aku tunggu Jamal di tepi jalan seperti yang dijanjikan.Lima menit berlalu Jamal tidak muncul-muncul juga. Hampir setengah jam aku menunggu, tapi Jamal tetap tidak muncul. Aku tidak suka orang yang mengingkari janji. Aku ingat lagi, salah satu ciri orang munafik ialah apabila berjanji tidak menepatinya. Aku tidak mau jadi orang munafik. Aku tanya kawan-kawanku yang lain, rupa-rupanya Jamal juga seperti ayah dan abang. Jamal pergi ke satu tempat yang indah. Tempat yang aku tidak tahu di mana letaknya. Semua orang yang ku sayangi pergi ke tempat itu. Mula-mula ayah, kemudian abang dan akhirnya Jamal.
Aku pulang ke rumah lebih awal, aku terkejut melihat rumahku dikepung tentara Israel. Mereka memang sedang mencari keluargaku akibat dari tindakan berani mati abang mengebom kubu Israel. Tubuhku yang kecil memudahkanku untuk menyusup masuk ke dalam rumah. Aku melihat ummi terpelosok di satu sudut, aku lihat dengan mataku sendiri, tentara itu menendang ummi. Mereka menendang dan menerjang ummi, tapi ummi masih bersabar. Ummi tidak putus-putus menyebut satu kalimat keramat..Ahad. .Ahad.
Mataku merah aku menahan marah, aku tidak suka orang-orang memukul ummi. Aku sayang ummi, aku benci Israel. Seorang tentera Israel mengacukan pistol ke arah ummi, ummi dengan tenang menghadapinya, tiada pun segaris garisan gusar terpancar diwajah ummi. Ketika peluru dilepaskan, tiba-tiba... ..
"Muhammad!!!! !!!" Ummi menjerit sambil memegang tubuhku. Badanku berlumuran darah, pekat dan merah.ku raba perutku, terasa sakit. Sakit yang menusuk-nusuk hingga kurasakan menjalar keseluruh tubuh,
Seketika aku mengorbankan tubuhku untuk melindungi ummi. Akhirnya peluru itu merobek perutku, Ummi memeluk tubuhku seraya menangis, ku coba untuk senyum pada ummi walaupun perih. "Ummi, aku mengantuk, aku mau tidur. Aku mau jadi mujahid, aku mau ikut abi dan abang" bergetar suaraku terdengar di telinga ummi. Ummi mengangguk, berusaha untuk menahan air mata yang jatuh dari kedua kelopak beningnya.
Aku pejamkan mata. Aku melihat ayah, abang dan Jamal melambai-lambai ke arahku..
(ya rabb, berilah kekuatan jasmani dan rohani serta rahmatmu selalu tercurah untuk mereka semua. Aminn ya rabb. Sebuah cerita yang menginspirasiku untuk tetap berusaha beriman dan bertakwa kepada-Mu)


0 komentar:
Posting Komentar